Mahasiswa adalah dua kata “maha” dan “siswa” yang dalam dunia ini hanya Tuhan penguasa seluruh alam dan
mahasiswa itu sendiri yang mempunyai panggilan tersebut. Memang kalau melihat
dari sejarah mahasiswa, nampaknya mahasiswa merupakan orang yang paling kuat di
dunia ini, pasalnya sejak Indonesia bisa merdeka dan sampai saat ini tidak
lepas dari peran mahasiswa. Peran mahasiswa pada saat itu (zaman penjajahan
hingga runtuhnya orde baru/revormasi) cukup menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa
telah betul-betul mampu memahami siapa dirinya dan untuk apa dia ada. Kita pun
mungkin masih ingat dalam dekde ini dengan adanya beberapa aktifis yang hilang
dan meninggal saat berjuang menumbangkan rezim orde baru?, itu sebuah hal yang
tidak dapat dipungkiri betapa besar kesadaran dan pengorbanan mahasiswa kala
itu ketika dihadapkan dengan persoalan-persoalan sosial yang terus menggurita
di bangsa ini.
Namun berbeda dengan realita
sekarang, setelah reformasi meruntuhkan rezim sang diktator tahun 1997/1998,
peran dan suara-suara mahasiswa yang menginginkan perubahan kian lama jauh dari
pendengaran kaum-kaum tertindas yang haus akan perubahan, yang seharusnya itu
dilakukan oleh mahasiswa dengan melihat kondisi bangsa ini yang semakin jauh
dari cita-cita UUD 45. Keadilan dan kesejahteraan yang menjadi impian
masyarakat saat ini seolah menjadi dongeng-dongeng pengantar tidur nyenyak
mereka untuk meraih mimpi-mimpi indah berujud jadi kenyataan.
Kalau dengar kata mahasiswa tentu
yang teringat dalam memori khususnya kaum akademisi adalah slogan-slogan
romantis yang tersemat di pundak mahasiswa. Namun sayangnya slogan-slogan
mahasiswa sebagai agen perubahan (agen of
change), control social (social of
control), kekuatan moral (moral force),
cadangan potensial (iron stock) hanya
menjadi ungkapan romantisme belaka. Tidak banyak mahasiswa yang mau dan mampu
memaknai serta mengimplementasikan filosofi slogan-slogan romantis tersebut
dalam kehidupan masyarakat sebenarnya. Jargon Tri Darma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, pengabdian) yang
cukup luas pemaknaan dan cakupannya hanya dijadikan pita emas penghias keindahan cermin perguruan tinggi. Mahasiswa
saat ini lebih menikmati predikatnya dengan hal-hal yang pragmatis dan penuh
kesenangan belaka. Ideologi mahasiswa saat ini sudah terhegemoni oleh
lendir-lendir kaum kapitalis dan neolib yang digadang-gadang oleh
kelompok-kelompok yang mengatasnamakan rakyat. Idealisme dan daya kritis
mahasiswa saat ini terjangkiti virus-virus hedonisme dan pragmatisme, bahkan
sifat apatis cukup mengakar di urat nadi kampus. Dengan adanya potret yang
sedemikian memprihatinkan, dengan semakin tingginya tingkat
apatisme dalam diri generasi muda maka tidak lain dan tidak bukan kehancuran
akan semakin dekat. Yang jadi pertanyaan
adalah apakah cukup tenaga apabila orang tua saat ini berjuang sendirian untuk
membalikkan keadaan yang terus bergelombang saat ini?
Musim kemarau dan penghujan dalam demokrasi kehidupan bangsa ini telah mengajarkan kita bahwa masyarakat sangat sulit untuk
tersenyum dalam keadaan yang serba sulit saat ini.
Untuk itu siap
ataupun masih bersiap bahkan tidak siap sama
sekali, mahasiswa telah ditakdirkan untuk berjibaku
dengan masalah dan tantangan hidup yang diwariskan oleh generasi
sebelumnya. Tantangan yang ada bukanlah pilihan, namun ini menjadi sebuah
kewajiban bagi mereka yang mengerti akan arti sebuah perjuangan untuk terus
memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.
Di tengah kegaluan yang
kian memuncak dan apatisme yang melonjak tajam,
peran perguruan tinggi sangatlah diharapkan seperti yang tercermin dalam Tri Darma Perguruan
Tinggi. Peran Perguruan Tinggi sangat dimungkinkan untuk memacu semangat
mahasiswa dalam menjalankan perannya sebagai agen of change. Suntikan-suntikan
motivasi tersebut sangat berbuah maksimal karena dibarengi dengan teori-teori
dalam perkuliahan dan daya kritis yang telah diwariskan. Kalau perlu mahasiswa
harus lahir kembali untuk belajar merangkak dan berjalan menapaki peran dan tanggungjawabnya
sebagai mahasiswa. Tanpa seperti itu mereka jelas tidaklah
puas hanya menenteng selembar kertas dengan tanda tangan sang Rektor. Sementara realita yang sebenarnya kelak saat mereka
berjalan lebih jauh menyelami relung-relung kehidupan sebenarnya yang
membutuhkan sentuhan dan kreasi mahasiswa yang dipenuhi daya kritis dan idealis
untuk mewujudkan perubahan. (Mukhtar - Ketum PMII Kutim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar